belajarDalam situasi pendidikan seorang anak kerab ditemui adanya stereotype tentang anak yang cerdas dan anak yang dianggap kurang cerdas. Test IQ dan berbagai nilai hasil  test ujian seseorang bukanlah penentu mutlak pengukuran tingkat kecerdasannya. Karena pada dasarnya setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kecerdasan masing-masing (sedikit penjelasan pada artikel: ‘Karakteristik Kecerdasan Manusia“).

Penting kiranya bagi setiap anak untuk dapat mencari tahu dimana letak kelebihannya. Terutama bagi perkembangan anak yang masih dalam proses belajar mengenai dasar suatu konsep pengetahuan.  Pembelajaran yang baik akan sangat menentukan hasil akhir dan proses perkembangan seseorang. Belajar merupakan sebuah proses penambahan ilmu dengan adanya perubahan serta peningkatan kualitas maupun kuantitas kemampuan seseorang di suatu bidang tertentu. Dengan kata lain, belajar itu merupakan proses perubahan seseorang dari kondisi tidak tahu menjadi tahu/ tidak bisa menjadi bisa.

Setiap anak memiliki tipe kepribadian yang unik satu sama lain, dan kondisi inilah yang menyebabkan sang anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada yang senang belajar di alam terbuka, suasana yang hening, ada juga yang senang belajar sambil mendengarkan musik maupun sambil menggerak-gerakan tangan/ kaki/ ataupun kursi tempat duduknya.

Secara umum, ada 3 macam tipe belajar seseorang, yaitu: anak belajar

1. Tipe Belajar Visual

Seseorang dengan tipe belajar visual lebih menyukai belajar ataupun menerima informasi dengan penglihatannya langsung, yaitu baik tulisan, gambar, maupun video-video pembelajaran. Contoh kata-kata yang cocok baginya ialah: Coba GAMBARkan pengalaman liburanmu minggu lalu, Tunjukanlah letak perbedaan kota A dengan kota B, dan berbagai kata-kata yang menggambarkan objek visual lainnya. Adapun ciri-ciri seseorang yang lebih condong ke arah berlajar visual diantaranya:

a. Mudah mengingat apa yang dilihat
b. Lebih senang membaca sendiri
c. Dapat membaca cepat
d. Dapat membayangkan kata-kata
e. Tidak terganggu oleh suara
f.  Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
g. Menyukai mendemontrasikan daripada menjelaskan
h. Kebiasaan mencoret-coret
i. Menyukai seni yang tidak berhubungan dengan musik.

2. Tipe Belajar Auditif

Seorang anak yang memiliki tipe auditif lebih senang belajar atau menerima informasi dengan mendengarkannya secara langsung atau secara lisan. Dalam kondisi tertentu, mungkin sang asik bermain sendiri dengan permainannya, namun jika pihak orang tua membacakan bacaan-bacaan di dekatnya dengan suara yang cukup keras, bisa jadi ia lebih dapat mengyerap ilmu yang didengarnya. Adapun ciri-ciri yang dapat diperhatikan adalah:

a. Lebih senang belajar dengan cara mendengarkan
b. Mudah mengingat yang diterangkan daripada melihat
c. Membaca dengan bersuara
d. Mudah terganggu oleh suara berisik
e. Biasanya pembicara ulung
f.  Senang berbicara dan berdiskusi
g. Lebih menyukai musik.

3. Tipe Belajar Kinestetik.

Seorang anak yang memiliki tipe belajar Kinestetik sangat senang jika belajar sambil menggerakan/ menyentuh sesuatu, entah pulpen yang digoyang-goyangkan, kursi tempat duduknya, maupun belajar sambil berjalan atau menggerak-gerakan tubuhnya sendiri. Adapun karakteristiknya sebagai berikut:

a. Berbicara perlahan
b. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
c. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
d. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
e. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
f. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
g. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
h. Menyukai permainan yang menyibukkan
i. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
j. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
k. Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Dari ketiga tipe belajar tersebut, kita tidak bisa memaksakan anak untuk merubah gaya belajarnya. Misalnya ditemui seorang anak yang sangat suka jika belajar sambil mendengarkan lagu. Jika orang tua kurang memahami kondisinya, bisa saja orang tua lantas mematikan musik yang didengarnya karena menganggap dengan mendengarkan musik maka pelajaran yang sedang dibaca/ dipelajari tidak akan masuk ke pikiran anak tersebut. Atau pada anak yang bertipe visual, mungkin saja ketika mendengarkan penjelasan dari gurunya, anak tersebut sambil menggambar ataupun mencoret-coret halaman belakang bukunya.

Kenali & pantaulah perkembangan belajar anak, biarkan ia berekspresi sesuai dengan karakteristik pembawaannya masing-masing. Semoga dengan kebebasan & kepercayaan yang diberikan maka sang anak pun dapat bertanggungjawab pada apa yang tengah dipelajarinya, sehingga hasil pembelajarannya pun maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. SEMOGA!