Berawal dari oleh-oleh liburan saya satu minggu yang lalu, yang salah satunya pergi ke NTB Lombok. Yang menarik dari provinsi yang satu itu, selain pantainya yang alami, hal yang bikin saya penasaran yaitu tentang si suku asli Lombok, suku Sasak namanya! (jadi mengenang pelajaran antropologi deh.. :p)

Suku sasak adalah salah satu suku terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sekitar 80% penduduk di pulau Lombok  ini diduduki oleh Suku Sasak dan selebihnya adalah suku lainnya, seperti suku mbojo (bima), dompu, samawa (sambawa), jawa dan hindu (Bali Lombok). Suku sasak mendiami seluruh pulau Lombok, yang tersebar di tiga Kabupaten, yakni Kab. Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur.

Asal muasal disebut Lombok / Sasak

Nenek moyang Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa Tengah yang terkenal dengan julukan Mataram, pada jaman Raja yang bernama Rakai Pikatan dan permaisurinya Pramudhawardani. Kata sasak itu sendiri berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Karena moyang orang Lombok pada jaman dulu berjalan dari daerah bagian barat Lomboq(lurus) sampai kearah timur terus menuju sebuah pelabuhan di ujung timur pulau yang sekarang bernama Pelabuhan Lombok. Mereka banyak menikah dengan penduduk asli hingga memiliki anak keturunan yang menjadi raja sebuah kerajaan yang didirikan yang bernama Kerajaan Lombok yang berpusat di Pelabuhan Lombok. Setelah beranak pinak, sebagai tanda kisah perjalanan dari Jawa memakai sampan (sak-sak), mereka menamai keturunannya menjadi suku Sak-sak, yang lama-kelamaan menjadi Sasak.

Rumah Adat Suku Sasak

IMG_0166

Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Pintu yang rendah sengaja dibuat terutama di rumah kepala suku yang menandakan kehormatan karena ketika masuk harus menundukan badannya.

Sistem Perkawinan Suku Sasak

Perkawinan yang terjadi di suku sasak dimulai dari adanya pelarian si pihak wanita oleh si pria.  Awalnya bisa didasari mereka saling suka atau tidak sama sekali, tinggal si prianya saja yang mencari strategi untuk membawa lari sang wanita. Setelah itu, baru perwakilan keluarga saling berkompromi untuk menebus kembali sang wanita. Perkawinan yang terjadi pun masih bersifat perkawinan saudara, yaitu perkawinan antar sepupu. Dari penjelasan yang saya dapat dari sang ‘jubir’: di satu desa Sade terdiri dari 150 KK/ Kepala Keluarga dan semuanya masih bersifat saudara, perkawinan yang terjadi pun masih seputar satu lingkungan mereka. Walaupun mereka mayoritas beragama islam, namun adat perkawinan antar saudara masih tetap dilestarikan. Jika  suku sasak ingin menikah dengan suku lain yang berbeda provinsi, biasanya si calon pasangannya harus membayar denda yang cukup banyak di setiap desa yang dia lalui.

IMG_0164 IMG_0167 IMG_0168

IMG_0173 Traditional_Sasak_Village_Sade_houses IMG_0165

Perekonomian Suku Sasak

Kehidupan perekonomian suku sasak yaitu dalam bidang pertanian dan perkebunan. Mereka bertani dan menanam berbagai kebutuhan mereka sehari-hari. Sepulangnya mereka dari bertani, mereka menyempatkan diri untuk bertenun di sore hari. Tetapi, untuk saat ini dengan semakin terkenalnya suku sasak dan makin banyaknya ‘pelancong’ yang datang ke perkampungan mereka, maka mereka pun menjual berbagai hasil karya baik tenun maupun kerajinan tangan mereka yang lainnya. Di satu desa Sade yang saya datangi pun hampir setiap 3 meter atau setiap rumah menjual hasil karya mereka. Saat ini, suku sasak di desa Sade jauh lebih berkembang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kerejinan tangan mereka sudah dikoordinir oleh koperasi desa yang dikelola oleh pengurus desa yang tidak lain masih satu kerabat dengan seluruh masyarakatnya.